-4.8 C
New York
Wednesday, December 13, 2017
Home Bukan Polisi Biasa Sikap komitmen tinggi terhadap keadilan yang dimiliki anggota Polri

Sikap komitmen tinggi terhadap keadilan yang dimiliki anggota Polri

0
79

SEORANG anggota Polri memang telah mendapatkan amanah untuk mengatur segala urusan hukum masyarakat  yang berada di wilayah hukumnya. Oleh karena itu, pada diri seorang anggota Polri melekat kuasa atau otoritas untuk menentukan kebijakan dan keputusan. Namun demikian, semua harus dijalankan atas dasar iman, akal sehat dan kemaslahatan.

Betapa pentingnya perkara ini bagi para anggota Polri, Al-Qur’an terus mengulang-ulang bagaimana kesewenang-wenangan menjadi gerbang kehancuran dan kenistaan seorang raja bernama Fir’aun. Fir’aun adalah sosok pemimpin yang gagal menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, malah ia semakin kehilangan akal sehat dalam menentukan beragam kebijakan dan keputusan.

Orang-orang yang dipilih Fir’aun berada di sekelilingnya justru orang yang jauh dari kredibilitas, kapabilitas dan keahlian. Mereka adalah orang-orang yang menyimpan pretensi dan menghendaki kehancuran. Haman adalah sosok orang yang sangat licik, kejam dan  membenci kebenaran. sehingga Haman akan melakukan apapun yang dianggapnya benar meskipun itu hanya benar untuknya bukan untuk orang lain.

Ketidakadilan hanya akan mengakibatkan terjadinya kerusakan, dimana orang yang salah diberi amanah, sedangkan orang yang benar dituduh sebagai pembuat onar. Ketidakadilan akan semakin mempercepat terjadinya kericuhan, kegaduhan bahkan kehancuran jika dilakukan oleh seorang pemimpin atau penguasa, sementara tidak ada satu pihak pun yang memberikan perimbangan pendapat.

Bagaimana adil, telah dinasehatkan oleh Buya Hamka kepada bangsa ini. “Adil ialah menimbang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak yang empunya dan jangan berlaku zalim di atasnya.”

Perihal ini yang ditegaskan oleh Rasulullah dalam masalah hukum, meskipun sebuah masalah pelanggaran hukum dialami oleh keluarga beliau sendiri. Tidak kemudian, hukum mengikuti siapa yang menyenangkan kita sebagai pemimpin, apalagi hukum tegak berdasarkan kemauan segelintir orang berharta.

Dengan kata lain, anggota Polri mesti memiliki komitmen tinggi terhadap keadilan. Jangan setiap bisikan dianggap kebenaran, sehingga jangankan kemaslahatan, diri kita pun tanpa sadar telah menjadi alat yang mencemari dan merusak kebaikan-kebaikan dalam kehidupan masyarakat atau rakyat sendiri.

Kemudian soal sikap bijaksana. Seorang anggota Polri tidak boleh bertindak tanpa pertimbangan iman, akal sehat, dan kemaslahatan hidup orang banyak. Oleh karena itu, dalam mengemban amanah bukan soal cepat atau lambat, tapi tepat dan maslahat.

Dalam konteks ini kita bisa belajar dari Musa bin Nushair, orang yang kemudian bisa mengembangkan dakwah di tanah Afrika, mendidik anak suku Berber bernama Thariq bin Ziyad yang kemudian menjelma menjadi panglima perang yang sukses mencerahkan tanah Andalusia.

Apa yang dilakukan oleh Musa bin Nushair? Beliau menjalankan amanah kepemimpinan dengan prinsip ketepatan, dimana target dari dakwah ini bukanlah cepatnya wilayah dalam hitungan luas yang ditaklukkan, tetapi bagaimana wilayah yang telah mendapatkan pencerahan, bisa benar-benar kokoh dalam iman dan perbuatan, sehingga ketika para pemimpin yang ada kembali kepada Allah, ada generasi yang siap melanjutkan perjuangan.

Dalam skala terkecil, saat kita berinteraksi di dunia maya, terutama sosial media, sikap bijaksana juga sangat diperlukan. Jangan sampai asal share beragam informasi yang diterima. Cek lebih dahulu, timbang-timbang dengan nalar; ini penting atau tidak, ini bermanfaat atau tidak; baik bagi diiri sendiri maupun orang lain. Kemudian cek lagi lebih dalam; “Kalau saya share ini apakah akan menguatkan iman sesama atau malah sebaliknya.”

Jika dirasa kurang manfaat, sebaiknya tahan diri untuk tidak menyebar apapun yang kita tidak tahu pasti manfaat dan kebenarannya.

Apalagi dalam konteks kebijakan dan keputusan seorang anggota Polri, jelas semua harus diteliti sedemikian rupa agar diri tetap dalam kebijaksanaan, sehingga kemaslahatan yang diharapkan bukan impian yang tak pernah bisa diwujudkan, hanya karena cara, metode dan waktu pelaksanaan tidak dipertimbangkan secara bijaksana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here