Ini dibuktikan dengan penggerebekan yang kembali dilakukan Satreskrim Polres Sidoarjo. Tempat Kejadian Perkara (TKP)-nya di Desa Gampang, Kecamatan Prambon. Dari lokasi ini, Polisi mengamankan tiga ton mi afalan. Mi yang seharusnya digunakan untuk pakan ternak itu diolah kembali menjadi makanan ringan.

Polisi juga menangkap pengepul mi bekas, H M B, 42, warga Desa Keret, Kecamatan Krembung. Selain itu juga diamankan dua tersangka produksi olahan mi yakni M B, 40, dan A M, 37, warga Desa Gampang, Kecamatan Prambon. “Mereka dijadikan tersangka karena mengolah mi yang seharusnya digunakan untuk pakan ternak menjadi makanan ringan,” ungkap Kasatreskrim Polres Sidoarjo Kompol Muhammad Harris, Jumat (2/6).

Ia menjelaskan mi yang sudah diolah itu dikemas dan dijual dengan merek Mickey Joos, Mahkota dan Mie Sedap Chacha. Menurutnya, praktik ini diketahui setelah Polisi mendapat laporan warga adanya produksi makanan yang tidak higienis di wilayah Desa Gampang, Prambon. Setelah diselidiki, polisi mendapatkan nama A M sebagai pemilik pengemasan mi afalan menjadi makanan ringan untuk dijual lagi.

“Saat itu kami tunggu hingga ada pengiriman barang. Namun, kami malah menjumpai satu pikap mi afalan bahan baku produksi yang dikirim,” jabar Muhammad Harris.

Mobil pikap dengan nomor polisi W 9196 NN yang membawa mi afalan berjumlah 75 ball seberat dua ton. Tak mau kehilangan barang bukti, Polisi pun menyergap kiriman mi tersebut. Setelah itu polisi mengamankan A M selaku pembeli mi. “Setelah kami interogasi, ia mengaku jika kakaknya M B yang bersebelahan rumah juga memproduksi makanan ringan dengan merek yang sama,” terangnya.

Setelah keduanya ditangkap, diketahui jika mi tersebut didapat dari seseorang bernama H Mu B, warga Desa Keret, Kecamatan Krembung. Polisi bergerak cepat dan menangkap M B di rumahnya. “Tersangka mengakui bahwa mi yang dikirimkan ke kedua tersangka merupakan mi afalan yang seharusnya tidak layak dikonsumsi manusia,” katanya.

Dari keterangan H M B pada Polisi Sat Reskrim Polres Sidoarjo, mi afalan tersebut didapat dari sebuah perusahaan di Gresik yang selama ini memang menjadi produsen mi ternama. Mi tersebut didapatnya dengan membeli seharga Rp 5 ribu per kilogram. Kemudian oleh tersangka ini mi tersebut dijual kembali ke A M dan saudaranya M B seharga Rp 6 ribu per kilogram.

Mi tersebut dioleh oleh A M dan kakaknya tersebut menjadi makanan ringan, kemudian dijual ke pasaran lagi dengan harga Rp 7 ribu per kilogram.

Mantan Kapolsek Simokerto ini mengatakan, Polisi sudah meminta keterangan dari pihak pabrik. Hasilnya, pabrik menjual mi untuk pakan ternak. Namun ia tidak tahu jika akhirnya diproduksi dan dikemas lagi menjadi makanan ringan.

LEAVE A REPLY