Hidup manusia tidak ada yang tahu ke depannya akan seperti apa kecuali Sang Maha Pencipta. Itu mungkin yang dialami Nani (21), mahasiswi akuntansi Bina Sarana Informatika.

Enam tahun lalu dirinya masih mempunyai organ tubuh yang lengkap. Namun kini, Nani harus kehilangan satu kakinya yang sebelah kanan.

Alumni SMK Al-Ikhlas, Bogor, Jawa Barat itu menceritakan kepada kumparan (kumparan.com), Kamis (15/2), awal mula ia harus kehilangan kakinya. Saat itu, ia sedang mengikuti kegiatan pramuka untuk penerimaan siswa baru di sekolahnya.

Kemudian saat acara penerimaan siswa baru itu ada kegiatan senam. Sebelum memulai senam, Nani melakukan pemanasan terlebih dahulu.

Saat pemanasan itu, Nani mendengar bunyi dari lutut di kaki kanannya. Pikir Nani, itu hanya bunyi biasa saja.

“Saya kira itu keseleo. Nah dua minggu pegal dan tidak hilang-hilang sampai akhirnya saya tidak bisa jalan lagi,” kata Nani di Kementerian Kesehatan, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta.

Mengetahui anaknya tak bisa berjalan, putri pasangan Tatang dan Ijah ini langsung dibawa ke tukang pijat. Harapan kedua orang tuanya, Nani bisa sembuh dan berjalan kembali.

Ternyata harapan orang tua Nani dikabulkan Tuhan. Nani pun kemudian sembuh dan bisa berjalan kembali. Namun kesembuhan Nani tak berlangsung lama malah kakinya makin membesar yang di sebelah kanan.

“Timbul bengkak di sebelah kanan. Akhirnya bengkak agak besar baru setelah itu saya periksa di puskesmas,” lanjut dia.

Setelah pergi ke puskesmas, Nani dan kedua orang tuanya baru mengetahui bila ia terkena kanker tulang atau Osteosarkoma. Bengkak yang diderita Nani akibat kakinya dipijat.

“Ternyata itu tuh (kaki bengkak) tidak boleh dipijat karena kalau dipijat justru kankernya bisa lebih cepat menyebar,” ucap Nani.

Oleh puskesmas kemudian Nani dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat untuk diperiksa lebih lanjut. Mengetahui kakinya terkena kanker tulang, Nani merasa terpukul apalagi saat dokter memvonis Nani harus mengamputasi kaki kanannya.

Tak hanya itu saja yang membuat Nani terpukul, dokter juga memvonis umurnya yang hanya bertahan enam bulan saja. Padahal saat itu, kanker tulang yang diderita Nani baru stadium dua.

“Drop banget. Jadi waktu itu kebetulan dokter momvonis usia saya enam bulan lagi dan saya harus di amputasi padahal itu masih stadium dua,” jelasnya.

Meski sedih namun Nani tetap harus mengikhlaskan dokter mengamputasi kakinya. Hal itu karena kanker tulang yang sangat ganas dan tak cepat diatasi sejak awal.

Dengan amputasi, dokter mengatakan nyawa Nani akan terselamatkan.

“Saya awalnya tidak mau. Sayang pengobatan udah terlambat. Itu (kanker) stadium lanjut dan tidak ada cara lain,” sesal Nani.

Amputasi yang dilakukan dokter kepada Nani bukan hanya sekali saja. Namun dua kali yaitu pada tahun 2012 dan 2013.

“Amputasi pertama dilakukan pada bulan Agustus 2012. Setelah itu kemoterapi selama enam bulan hingga akhirnya melakukan amputasi kembali tahun 2013,” ungkapnya.

Nani hanya bisa berserah diri kepada Tuhan saat kaki kanannya benar-benar habis diamputasi. Anak keempat dari empat bersaudara ini sangat beruntung masih mempunyai orang tua yang terus memberi semangat hidup kepadanya.

Kedua orang tua Nani bahkan rela mengantar Nani untuk melakukan pengobatan hingga anaknya sembuh. Setelah tahun 2013, dokter menyatakan Nani sembuh total dari kanker tulang.

Kemudian September 2017, Nani pun masuk kuliah di Bina Sarana Informatika. Saat masuk ke kampus, Nani berusaha bersikap biasa sama seperti teman-temannya yang lain meski saat berjalan harus dibantu dengan kruk atau alat bantu jalan.

Sumber: kumparan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here