GERAK cepat dalam mengkampanyekan anti narkoba kembali digemakan Garda Mencegah Dan Mengobati (GMDM). Kali ini bersama Presnas FOKAN (Presidium Nasional Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba) dan LD PBNU, organisasi yang dikomandoi Jefry Tambayong, SH ini menggelar Seminar Narkoba bertajuk “Dakwah Milenial Menuju Generasi Indonesia Bersinar (Bersih Narkoba) di Moto Village, Jakarta Selatan, Kamis (7/2/2019).

Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut di antaranya Deputi Pemberantasan BNN RI Irjen Pol Arman Depari yang juga Ketua Dewan Pendiri GMDM, Ketua Umum GMDM/Presnas Fokan Jefry Tambayong, SH dan KH. Wahid Nuruddin dari LD PBNU Pusat

Hadir juga dari Presidium FOKAN di antaranya Dewan Pakar Brigjen Pol. Dr. Viktor Pudjiadi, Ketua GANN H. Kismono, Ketua Umum Gannas Nyoman Adi Feri, yang menjadi cikal bakal organisasi anti narkoba di Indonesia bersama aktivis anti narkoba lainnya. Selain itu hadir juga dari GMDM Bekasi, GMDM Kabupaten Bogor, GMDM Jaksel, IPNU Jaksel, LPPNU Jaksel, Fatayat NU Jaksel dan pemilik Moto Village Umar Lubis. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu Mars dari GMDM.

Pada kesempatan tersebut Ketua Umum GMDM, Jefry Tambayong, SH kembali mengingatkan bahwa NKRI merupakan harga mati baginya dan siapa saja. “Kita dari suku, agama yang berbeda. Kita disatukan punya tekad untuk sama-sama fight against drugs,” kata Jefry.

Tak hanya narkoba, Jefry juga menyoroti tentang hoax yang sudah menghancurkan Indonesia. Karena negara ini selain sudah darurat narkoba, juga mengalami darurat hoax. “Apa itu hoax, tentu kabar bohong yang memecah belah bangsa. Saya selain tidak rela Indonesia hancur karena narkoba, juga tak rela Indonesia hancur karena hoax. Kita suku boleh berbeda, agama beda. Tapi kita NKRI harga mati,” ungkapnya.

Lebih lanjut Jefry mengungkapkan saat dirinya bersama Deputi Pemberantasan BNN RI Irjen Pol Arman Depari mengunjungi pesantren pesantren yang ada di Jawa Timur. Kepada kyai di sana ia mengatakan, “Saya orang Manado, Pak Arman orang Batak. Agama kita beda, tapi hati kita sama, untuk NKRI”. “GMDM sendiri mempunyai motto ‘tiada hari tanpa penjangkauan, tiada hari tanpa penyuluhan’. Karenanya, kami bukan mengklaim, tapi kami menjadi salah satu yang terbanyak rehabilitasi pencandu narkoba rawat jalan,” kata Jefry Tambayong.

Jefry menambahkan, sekarang ini sudah hampir 7200 anak-anak pecandu yang rawat jalan di GMDM, dan ini hanya untuk di DKI. Sementara untuk rawat inap tempatnya masih terbatas, hanya untuk 100 orang pria dan wanita. “Tapi kami tenang, Jawa Timur sudah buka panti rehab, juga di beberapa tempat di Jawa Barat. Kemudian di Semarang yang juga akan kami deklarasikan dengan Gubernur Jawa Tengah, yang rencananya 10.000 dan ke depan dengan 4885 pesantren se Jawa Tengah kita akan deklarasi anti narkoba,” paparnya.

Semua pergerakan GMDM ini, kata Jefry, tak lain atas motivasi yang diberikan Irjen Pol Arman Depari untuk kegiatan sosial, karena semua anak GMDM punya tujuan dari kegiatan sosial dan bergerak untuk NKRI. “Oleh sebab itu harapan saya, “Dakwah Milenial Menuju Generasi Indonesia Bersinar” bukan hanya di Jakarta Selatan saja, tetapi, Pusat Timur, Utara dan seluruh Indonesia,” harap Jefry Tambayong.

Sementara di tempat yang sama, Deputi Pemberantasan BNN RI Irjen Pol. Arman Depari mengatakan, narkoba harus dihindari karena tidak layak bahkan hanya ada hitungan jari yang bisa selamat dan survive dari narkoba. Pada umumnya mereka tidak akan kembali lagi, karena di narkoba biasa dikenal atau terdengar ungkapan, ‘kami sudah menggunakan’, itu hanya ada satu tiket, yakni pergi dan tidak pernah kembali lagi.

“Maka bagi mereka yang masih bisa berdiri di depan kita itu adalah satu keberuntungan dan satu hal yang sangat sulit kita temui. Diketahui, hampir 70 persen mereka (para pecandu-red.) kembali lagi menggunakan, dan ini yang biasa disebut relaps,” kata Arman Depari yang juga Ketua Dewan Penasehat/Pembina Fokan.

Lebih lanjut Arman mengungkapkan, dalam sidang kabinet terbatas Presiden Jokowi pernah menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa Indonesia “Darurat Narkoba”. Karena itu menurutnya, sudah seharusnya Jokowi yang menjadi panglima untuk memberantas narkoba ini. “Kalau pimpinan negara sudah sampaikan ‘mari kita perangi’, kita harus ikut di belakang. Karena saat ini di mana-mana sudah ada narkoba, bukan hanya di kota, kecamatan, desa-desa tapi sudah di tingkat RT/RW,” ungkapnya.

Bicara tentang ‘darurat narkoba’, Arman mengingatkan bahwa darurat merupakan situasi yang sudah sangat berbahaya sehingga perlu semua sumber daya dikerahkan. “Dokternya harus bagus, obatnya harus baik dan tempatnya juga harus bagus. Nah, darurat di Indonesia ini seperti apa? Permasalahannya yang pertama adalah kejahatan kejahatan yang terjadi di rumah. Kalau sudah ada anggota keluarga kita yang menggunakan narkoba, maka di rumah itu pasti tidak tenang,” jelasnya.

Pada kesempatan itu Arman Depari juga menyoroti empat hal yang saat ini terdengar di pemberitaan. Pertama masalah korupsi yang sering terdengar di televisi. Kemudian salah satu yang mengancam persatuan, yakni terorism. Lalu hoax atau berita bohong yang juga menghancurkan dan mengancam persatuan. Terakhir narkoba, yang setiap hari masuk dalam pemberitaan. “Nah Ini yang perlu kita tangani,” tegasnya.

Acara semakin menarik saat Dewan Pakar FOKAN yang juga Staf Ahli di BNN, Brigjen Pol. Dr. Viktor Pudjiadi presentasinya tentang narkoba yang digabungkan dengan peragaan atraksi sulap dan ditutup dengan pemberian cinderamata kepada para narasumber oleh pemilik Moto Village dan foto-foto bersama, setelah sebelumnya KH. Wahid Nuruddin dari LD PBNU Pusat memberikan materinya tentang kecintaan terhadap NKRI Harga Mati. ED – JAKARTA

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here