Benteng BelandaPolresta Kediri  – Jika diruntut secara historis berdasarkan papan nama di Kantor Polresta Kediri , bekas Benteng Belanda yang dibangun tahun 1835 ini dimanfaatkan kepolisian sejak tahun 1945 dan pada 2017 usia bangunan ini sudah 182 tahun.

 

Kapolwil yang menjabat pertama atas nama Soediro dengan pangkat Komisaris Kelas I, menjabat selama dua tahun yakni dari tahun 1945-1947.

 


Benteng BelandaKantor Polresta Kediri Tempoe Doeloe ( Foto : istimewa)

Sedikitnya ada 28 Kapolwil yang pernah menjabat di bekas Benteng Belanda. Hingga akhirnya Polwil dihapus pada tahun 2010. Dan pejabat terakhirnya Kombes Pol Drs Ahmad Lumumba, SH.

 

 


IMG_6320Kantor bekas eks-Polwil Kediri juga pernah digunakan sebagai Mako-2 (Mako-1 Jalan Brawijaya 25 Kota Kediri) oleh dua kapolres sebelum AKBP Anthon Haryadi, S.IK , M.H yakni yakni AKBP MH Ritonga dan AKBP Ratno Kuncoro, AKBP Budhi Herdi Susianto,AKBP Bambang Widjanarko Baiin dan AKBP Wibowo antara tahun 2010-2017

 

 

 

Hingga akhirnya secara resmi Polresta Kediri dipindah ke Mako-2 di Jl KDP Slamet 2 Kota Kediri pada 7 Januari 2014 oleh Kapolresta Kediri AKBP Budhi Herdi Susianto.

 

 

 

Sebelumnya pada tahun 1 Juli 1983 pernah dilakukan pemugaran di beberapa bagian bangunan di era Kapolwil Kolonel Polisi Drs M Zahri Amin.

 

 

 

Sekedar mengingatkan wilayah karesidenan diserahkan kepada pemerintahan Hindia-Belanda dari Mataram pada tahun 1830, setelah berakhirnya Perang Diponegoro. Kemudian pada tahun 1957 pemerintah Republik Indonesia menghapus karesidenan sebagai pembagian administratif negara.

 

 

 

Semenjak krisis pada tahun 1950-an, sudah tidak ada karesidenan lagi dan yang muncul faktor kekuasaannya adalah kabupaten. Karesidenan kemudian dikenal dengan istilah ‘Pembantu Gubernur’ (istilah ini sekarang tidak digunakan lagi). Namun, sebutan eks-karesidenan masih dipakai secara informal.

 

 

 

Sebuah sisa pemakaian karesidenan adalah tanda kendaraan bermotor (pelat nomor). Pembagiannya, terutama di pulau Jawa masih banyak berdasarkan karesidenan. (res|aro)

 

 

 

*Sumber : Imam Mubarok – Pengamat Sejarah Kediri | wartawan www.merdeka.com

LEAVE A REPLY