Antisipasi Virus Corona, Ini Kata Pemkot Surabaya

Surabaya – Pemkot Surabaya berupaya mengantisipasi persebaran virus korona dengan melibatkan petugas puskesmas di seluruh Surabaya. Warga Surabaya yang datang dari luar negeri, terutama dari negara yang ditemukan kasus korona, akan dipantau secara khusus. Pemantauan kondisi kesehatan merupakan prosedur biasa untuk memastikan warga tersebut betul-betul aman dari virus tersebut. Pemantauan itu sudah berlangsung dalam sebulan terakhir Ada petugas khusus yang diminta untuk datang ke rumah warga yang baru saja bepergian ke luar negeri. Di antaranya, warga yang baru pulang dari Malaysia, Singapura, dan Australia.

Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Febria Rachmanita mengungkapkan, pemantauan kesehatan itu berupa pengecekan suhu tubuh warga. Selain itu, dilakukan pengecekan tekanan darah. Memang pada saat di Bandara Juanda ada alat thermal scanner untuk memantau suhu tubuh.

”Alhamdulillah sampai dengan hari ini (kemarin, Red) semua aman. Tidak ada yang demam. Semua sehat,” ungkap Feni, sapaan akrab Febria Rachmanita, kemarin (28/2).

Feni menyebutkan, bila ada warga yang merasa demam, batuk, atau sesak napas dengan catatan baru saja pulang dari negara-negara yang terinfeksi, akan ada perlakuan khusus. Orang tersebut bakal diisolasi dan dilakukan observasi lanjutan. ”Ini bentuk kewaspadaan kami,” tambah Feni.

Dinkes Surabaya telah menjalin kerja sama dengan kantor kesehatan pelabuhan (KKP) untuk prosedur penanganan dan antisipasi virus tersebut. Seluruh puskesmas di bawah Pemkot Surabaya juga diminta untuk berperan aktif. ”Kalau ada batuk atau sesak, bisa dibawa ke RS rujukan yang mempunyai ruang isolasi,” jelas Feni.

Pada saat mahasiswa asal Surabaya yang berkuliah di Wuhan, Tiongkok, pulang, juga ada prosedur untuk pemantauan tersebut. Pada awal Februari lalu, Feni menyampaikan bahwa pemantauan berlangsung secara berkala setiap hari selama dua minggu berturut-turut. Pemantauan itu dilakukan dengan mengunjungi langsung rumah mereka.

Ahli epidemiologi dari Universitas Airlangga Atik Choirul Hidajah mengungkapkan, orang yang baru saja bepergian dari luar negeri akan mendapatkan health alert card atau kartu kewaspadaan kesehatan. Dia pun mendapatkan kartu tersebut saat tiba di bandara pada 19 Februari lalu. Atik memang baru pulang dari Eropa dan transit di Singapura. ”Memang agak ribet karena ditanya-tanya. Tapi, health alert card itu menjadi salah satu cara untuk mengantisipasi persebaran virus,” ungkap Atik kemarin.

Data di kartu itu cukup lengkap. Termasuk riwayat perjalanan di luar negeri. Ada pula data warga tersebut. Data itu akan diserahkan ke dinas kesehatan provinsi, lantas disebar ke dinas kesehatan untuk pemantauan. Bila merasakan gejala-gejala seperti sesak, batuk, atau demam, orang tersebut bisa datang ke fasilitas kesehatan terdekat dengan membawa kartu itu. ”Harus ditekankan bahwa kalau saya lapor, berarti saya akan melindungi orang-orang di sekitar saya,” ungkap Atik.

Meski harus meningkatkan kewaspadaan, bukan berarti mesti panik berlebihan terhadap virus tersebut. Sebab, virus itu bukan endemis di Indonesia. Atik memberikan sejumlah tip untuk pencegahan.

Salah satu penularan virus korona itu melalui udara. Penyakit tersebut memiliki gejala panas, demam, dan sesak napas karena yang diserang adalah jaringan paru-paru. ”Cara penularanya melalui udara pernapasan, percikan ludah saat orang bicara,” ungkap dia.

Orang yang terkena flu sangat disarankan untuk mengenakan masker. Warga juga diminta untuk lebih meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang bergizi. Selain itu, rajin cuci tangan dan menjaga tangan agar selalu higienis. ”Pakai masker yang ada di pasaran sudah cukup. Tak harus dengan masker N-95,” jelas Atik. 

Baca juga: berita tentang Polrestabes Surabaya dan Kapolrestabes Surabaya.
Sumber: Jawapos.com
Kepolisian Resort Kota Besar Surabaya, Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Dr Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *