Bandar Jaringan Malaysia Pasarkan SS Bervariasi

Surabaya – Bandar narkoba tidak hanya sibuk mencari celah agar tidak terendus polisi. Jaringan Malaysia juga melakukan inovasi dengan membuat sabu-sabu (SS) dengan beragam varian. Pembedanya ada pada warna, efek, dan harganya.

Hal tersebut terungkap dalam pemeriksaan lanjutan terhadap tersangka M. Haririn alias Acong. ”Bisa jadi untuk mencari peminat,” ujar Kasatresnarkoba Polrestabes Surabaya AKBP Memo Ardian kemarin (19/2).

Memo menjelaskan, temuan itu didapat dari pengungkapan besar-besaran pekan lalu. Dari tersangka 34 tahun tersebut, polisi menyita 25 kilogram SS dan 12 ribu butir pil ekstasi. Menurut dia, warna SS yang diamankan bukan hanya putih seperti pada umumnya. ”Sebagian berwarna merah muda dan hijau,” ucap polisi dengan dua melati di pundak tersebut. Masing-masing memiliki berat sekitar 1 kilogram.

Acong, ujar dia, dalam pemeriksaan mengaku bahwa harga SS berwarna lebih mahal daripada yang biasa. Selisihnya Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per gram. ”Efeknya juga disebut beda,” katanya.

Lulusan Akpol 2002 itu mengungkapkan, SS warna putih biasa dipakai untuk merangsang stamina. Yang menjadi pemakainya bisa sulit mengantuk. Dia menjadi lebih aktif. ”Warna hijau itu turunannya. Dampaknya lebih kuat,” tuturnya.

Lain dengan dua jenis itu, SS warna merah muda mempunyai efek tersendiri. Menurut Acong, imbas pemakaiannya adalah menambah gairah seksual. ”Bukan jenis baru. Di luar daerah pernah ada temuan serupa. Tetapi, memang jarang ditemukan,” jelasnya.

Mantan Kasatreskrim Polresta Balerang tersebut menambahkan, bandar dari negeri jiran belakangan juga memasok narkoba berkualitas tinggi ke Jatim. Dasarnya adalah kemasan SS yang disita dari tangan Acong. Menurut dia, semuanya memang terbungkus kemasan teh. Namun, ada dua warna yang berbeda. Yakni, hijau dan kuning keemasan.

Nah, warna terakhir adalah pembedanya. Memo menuturkan bahwa kemasan teh untuk membungkus SS dulu hanya hijau. Tetapi, akhir-akhir ini juga ditemukan kuning keemasan. Acong mengatakan, harganya di atas narkoba biasa. Bedanya sekitar Rp 500 ribu.

Disinggung soal kandungan beragam SS tersebut, dia mengaku belum bisa memastikan. Memo mengungkapkan bahwa pihaknya harus menunggu hasil uji laboratorium forensik (labfor). ”Biar jelas karena sudah diperiksa oleh ahlinya,” katanya.

Memo menyebutkan, jaringan tersangka saat ini terus ditelusuri. Dia mengaku sudah membentuk tim gabungan dari empat unit. Tujuannya, tidak hanya memburu bandar yang menjadi pemasok tersangka, tetapi juga pembeli yang selama ini berkomunikasi dengannya.

Sebagaimana diberitakan, Acong dibekuk di Jalan Arjuno pada Jumat (14/2). Awalnya, petugas tidak menemukan barang bukti narkoba. Namun, polisi menemukan petunjuk kuat. Di dalam ponselnya terdapat percakapan transaksi. Acong yang terdesak lantas mengaku menyimpan narkoba di tempat kosnya di Jalan Karah, Jambangan.

Barang bukti narkoba yang ditemukan ternyata di luar dugaan. Dari tempat itu, polisi mendapati 12 kilogram SS dan 10 ribu butir ekstasi. Acong kontan saja ditengarai sebagai komplotan dari jaringan besar.

Baca juga: Polrestabes Surabaya dan Kapolrestabes Surabaya

Sumber: jawapos.com

Kapolrestabes Surabaya. Polrestabes Surabaya, Kepolisian Resort Kota Besar Surabaya, Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol. Sandi Nugroho.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *